November 30, 2009

2 Anemia

Pengertian
Anemia adalah penurunan kuantitas atau kualitas sel-sel darah merah dalam sirkulasi. Anemia dapat disebabkan oleh gangguan pembentukan sel darah merah, peningkatan kehilangan sel darah merah melalui perdarahan kronik atau mendadak, atau lisis (destruksi) sel darah merah berlebihan. (Corwin, 2001 : 119)
Anemia adalah suatu kondisi akibat penurunan produksi hemoglobin, peningkatan kerusakan sel darah meah dan atau akibat kehilangan darah. (Potter & Perry, 2006 : 1559)
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. (Brunner & Suddarth, 2002 : 935)
Dari beberapa pengertian mengenai anemia di atas, dapat disimpulkan bahwa anemia adalah penurunan kualitas atau kuantitas sel-sel darah merah dalam sirkulasi akibat penurunan produksi hemoglobin, peningkatan kerusakan sel darah merah dan atau kehilangan sel darah merah.

Anatomi Darah
Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Elemen-elemen berbentuk adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Plasma terdiri dari air 90%, dan 10 % berupa elektrolit, gas terlarut, berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula, asam amino, lemak, kolesterol, dan vitamin. Protein dalam darah misalnya albumin, imunoglobin, serta komponen jenjang koagulasi dan komponen itu ikut menyusun plasma. Protein-protein lain dalam plasma berfungsi untuk mengangkut berbagai hormon dan lemak yang sebenarnya sulit larut. Contoh bahan-bahan yang diangkut secara terikat ke protein plasma berdensitas rendah dan tinggi adalah hormon tiroid, besi, fosfolipid, dan kolesterol.

Pembentukan Sel Darah
Sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dibentuk di hati dan limpa pada janin, dan disumsum tulang setelah lahir. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematepoiesis.
Hematopoiesis berawal dari sumsum tulang dari sel-sel bakal pluripotensial (berarti “memiliki banyak potensi/kemungkinan”). Sel-sel bakal adalah sumber dari semua sel darah. Sel-sel ini mengalami reproduksi sel melalui replikasi DNA dan mitosis, serta diferensiasi sel sewaktu mereka mulai berpisah dan berkembang menjadi sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit

Kontrol terhadap Perkembangan Sel Bakal
Sel bakal, distimulasi untuk membentuk sel-sel darah dengan cara menerima tanda in utero dan setelah lahir. Tanda-tanda tersebut meliputi pelepasan molekul-molekul produk lokal, yang merupakan petunjuk terhadap keadaan kepadatan di dalam jaringan hematopoietik. Tanda tersebut juga termasuk peredaran hormon, (faktor pertumbuhan hematopoietik) yang menstimulasi terjadinya plorifelari banyak atau seluruh sel. Faktor pertumbuhan hemaopoietik yang spesifik untuk sel-sel yang mereka stimulasi disebut faktor penstimulasi koloni (colony-stimulating factor).

Sel Darah Merah
Sel darah merah (eritrosit) tidak memiliki inti sel, mitokondria, atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis, fosforilasi oksidatif sel, atau pembentukan protein. Sel darah merah mengandung protein hemoglobin yag mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil di paru ke sel-sel di seluruh tubuh. Hemoglobin menempati sebagian besar ruang intrasel eritrosit. Sel darah matang dikeluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disintegrasi dan mati. Sel-sel darah merah yang mati diganti oleh sel-sel baru yang dihasilkan oleh sumsum tulang

Sifat-Sifat Sel Darah Merah
Sel darah merah biasanya digambarkan berdasarkan ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel:
Normositik : Sel yang ukurannya normal
Normokromik : Sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
Mikrositik : Sel yang ukurannya terlalu kecil
Makrositik : Sel yang ukurannya terlalu besar
Hipokromik : Sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu sedikit
Hiperkromik : Sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu banyak
Dalam keadaan normal, bentuk sel darah dapat berubah-ubah. Sifat ini memungkinkan sel tersebut masuk atau lolos ke mikrosirkulasi kapiler tanpa mengalami kerusakan. Apabila sel darah merah sulit berubah bentuknya (kaku), maka sel tersebut tidak dapat bertahan selama peredarannya dalam sirkulasi.

Antigen Sel Darah Merah
Sel darah merah memiliki bermacam-macam antigen spesifik yang terdapat di membran selnya dan tidak ditemukan di sel lain. Antigen-antigen ini diberi nama A dan B, dan Rh.
Antigen ABO Seseorang memiliki dua alel (gen) yang masing-masing mengkode antigen A atau B; atau tidak memiliki keduanya, yang diberi nama O. Satu alel diterima dari masing-masing orang tua. Antigen A dan B bersifat kodominan. Orang yang memiliki antigen A dan B (AB) akan memiliki darah (golongan) AB. Mereka yang memiliki dua antigen A (AA) atau satu A dan satu O (AO), akan memiliki darah A. Mereka yang memiliki dua antigen B (BB) atau satu B dan satu O (BO), akan memiliki darah B. Orang yang tidak memiliki kedua antigen (OO) akan memiliki darah O.
Orang yang memiliki golongan darah AB akan menerima darah A, B atau O. Namun, orang yang tidak memiliki antigen A dan B akan membentuk respons imun apabila terpajan ke antigen-antigen tersebut selama transfusi darah.
Antigen Rh adalah kelompok utama antigen lainnya pada sel darah merah yang juga diwariskan sebagai gen-gen dari masing-masing orang tua. Antigen Rh yang utama disebut faktor Rh. Orang yang mempunyai antigen Rh dianggap positif Rh (Rh+). Orang yang tidak memiliki antigen Rh dianggap negatif Rh (Rh-). Gen positif Rh bersifat dominan. Dengan demikian, orang harus memiliki dua faktor negatif agar menjadi negatif Rh. Orang yang positif Rh akan menerima darah negatif Rh, tetapi mereka yang tidak memiliki antigen Rh akan membentuk respons imun apabila terpajan ke darah posistif Rh.

Resipien dan Donor Darah Universal
Resipien darah universal adalah mereka yang memiliki darah posistif-AB karena sistem imun darah mereka akan menganggap antigen A atau B dan antigen positif Rh sebagai bagian dari diri mereka (bukan benda asing). Dengan demikian, mereka dapat menerima semua profil ABO dan Rh. Donor darah universal adalah mereka yang memiliki darah negatif O. Walaupun sistem imun negatif mereka akan menyerang darah yang mengandung antigen A atau B dan faktor Rh, darah mereka dapat diberikan transfusi untuk semua resipien.

Hemoglobin
Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemogobin dalam setiap sel darah merah.
Setiap molekul hemoglobin memiliki tempat pengikatan untuk oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihemo-globin. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara parsial atau total di ke empat tempatnya. Hemoglobin yang jenuh mengikat oksigen secara penuh/total, sedangkan hemoglobin yang jenuh parsial akan mengalami deoksigenasi memiliki saturasi yang kurang dari 100%. Darah arteri sistemik dari paru adalah jenuh dengan oksigen. Hemoglobin melepaskan oksigen ini ke sel sehingga saturasi hemoglobin dalam darah pena adalah sekitar 60%. Tugas akhir hemoglobin adalah menyerap karbondioksida dan ion hidrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari hemoglobin.
Terdapat paling sedikit 100 jenis molekul hemoglobin abnormal yang diketahui terdapat pada manusia, yang terbentuk dari berbagai mutasi. Sebagian besar sebagian jenis tersebut kurang mampu mengangkut oksigen dibandingkan hemoglobin normal.

Pemecahan Sel Darah Merah
Apabila sel darah merah mulai berdisintegrasi pada akhir masa hidupnya, sel tersebut mengeluarkan hemoglobinnya ke dalam sirkulasi. Hemoglobin diuraikan di hati dan di limpa. Molekul globulin diubah menjadi asam-asam amino yang digunakan kembali oleh tubuh. Besi disimpan di hati dan di limpa sampai digunakan kembali. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin, yang kemudian dieksresikan melalui tinja sebagai empedu atau melalui urin.

Etiologi
Anemia Aplastik
Anemia aplastik adalah anemia normokromik normositik yang disebabkan oleh disfungsi sumsum tulang sedemikian sehingga sel-sel darah yang mati tidak diganti. Anemia aplastik disebabkan oleh banyak hal termasuk kanker sumsum tulang, pengrusakan sumsum tulang oleh proses autoimun, defisiensi vitamin, berbagai obat dan radiasi atau kemoterapi. (Corwin, 2001 : 122-123)

Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah penurunan jumlah sel darah merah akibat destruksi berlebihan sel darah merah. Anemia hemolitik mungkin terjadi akibat defek genetik di sel darah merah, timbulnya penyakit otoimun atau mungkin didapat akibat pejanan obat atau toksin tertentu. (Corwin, 2001 : 124)

Anemia sel Sabit
Anemia sel sabit adalah gangguan resesif otosom yang disebabkan oleh pewarisan dua salinan gen hemoglobin defiktif, satu dari masing-masing orang tua. Hemoglobin yang cacat tersebut yang diberi nama hemoglobin S (HbS), menjadi kaku dan berbentuk seperti sabit akibat terpajan oksigen berkadar rendah. Rangsangan yang sering menyebabkan terbentuknya sel sabit adalah stress fisik, demam atau trauma.

Anemia Pasca Perdarahan
Anemia pasca perdarahan adalah anemia normositik normokromik yang terjadi akibat kehilangan darah secara mendadak pada orang sehat. Perdarahannya dapat jelas atau samar. (Corwin, 2001 : 128)

Anemia Pernisiosa
Anemia pernisiosa adalah anemia makrositik normokromik yang terjadi akibat defisiensi vitamin B12. Vitamin B12 diserap oleh faktor intrinsik yang dihasilkan dari hormon lambung. Sebagian besar penyebab anemia pernisiosa adalah akibat defisiensi faktor intrinsik, tetapi dapat juga terjadi defisiensi vitamin B12 dalam makanan. Defisiensi faktor intrinsik dapat timbul secara kongenital atau akibat atrofi atau rusaknya mukosa lambung karena peradangan lambung kronik atau penyakit otoimun. Pengangkatan sebagian atau seluruh lambung secara bedah juga akan menyebabkan defisiensi faktor intrinsik. (Corwin, 2001 : 129)

Anemia Defisiensi Folat
Anemia defisiensi folat adalah anemia makrositik-normokromik akibat defisiensi vitamin folat. Defisiensi terjadi relatif sering pada wanita muda dan semua orang yang mengalami malnutrisi atau menyalahgunakan alkohol. (Corwin, 2001 : 130)

Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia mikrositik hipokromik yang terjadi akibat defisiensi besi dalam gizi atau hilangnya darah secara lambat dan kronik. (Corwin, 2001 : 131)

Anemia Sideroblastik
Anemia sideroblastik adalah anemia mikrositik-hipokromik yang ditandai oleh adanya sel-sel darah merah imatur (sideroblas) dalam sirkulasi dan sumsum tulang. Anemia sideroblastik primer dapat terjadi akibat efek genetik pada kromosom X yang jarang ditemukan (terutama dijumpai pada pria) atau dapat timbul secara spontan, terutama pada orang tua. Penyebab sekunder anemia sideroblastik adalah obat-obat tertentu, misalnya beberapa obat kemoterapi dan ingesti timah. (Corwin, 2001 : 131-132)

Patofisiologi
Anemia akibat Penurunan Sel Darah Merah
Anemia yang terjadi akibat gangguan dalam kualitas pembentukan sel darah merah timbul apabila sel darah merah berukuran terlalu kecil (mikrositik) atau terlalu besar (makrositik). Anemia yang berkaitan dengan kualitas sel darah merah juga terjadi apabila terjadi gangguan pembentukan hemoglobin. Hal ini akan menyebabkan konsentrasi hemoglobin yang tinggi berlebihan (hiperkromik) atau rendah berlebihan (hipokronik).

Anemia akibat Lisis atau Perdarahan Mendadak
Anemia akibat lisis atau perdarahan mendadak berkaitan dengan penurunan jumlah total sel-sel darah merah dalam sirkulasi. Sel-sel darah merah secara normal hidup sekitar 120 hari. Destruksi atau hilangnya sel darah merah yang terjadi sebelum 100 hari bersifat abnormal

Manifestasi Klinis
Anemia ditandai dengan kadar hemoglobin di bawah normal. Manifestasi klinis kondisi ini meliputi keletihan, penurunan toleransi aktivitas, peningkatan sesak napas, tampak pucat dan peningkatan frekuensi denyut jantung. (Potter & Perry, 2006 : 1559)
Tanda-tanda sistemik anemia yang klasik adalah :
Peningkatan kecepatan denyut jantung karena tubuh berusaha memberi oksigen lebih banyak ke jaringan
Peningkatan kecepatan pernapasan karena tubuh berusaha menyediakan lebih banyak oksigen kepada darah
Pusing akibat berkurangnya aliran darah ke otak
Rasa lelah karena meningkatnya oksigenasi berbagai organ termasuk otot jantung dan rangka
Kulit pucat karena berkurangnya oksigenasi
Mual akibat penurunan aliran darah saluran cerna dan susunan saraf pusat
Penurunan kualitas rambut dan kulit
Apabila trombosit dan sel darah putih juga terkena, maka gejala-gejala bertambah dengan :
Perdarahan dan mudahnya timbul memar
Infeksi berulang
Luka kulit dan selaput lendir yang sulit sembuh
Pada Anemia sel sabit, gejala bertambah dengan :
Nyeri hebat akibat sumbatan vaskular pada serangan-serangan penyakit
Infeksi bakteri berulang
Splenomegali karena limpa membersihkan sel-sel yang mati
Ataksia (gangguan koordinasi motorik dan berkurangnya sensorik mengisyaratkan disfungsi susunan saraf pusat dan degenerasi mielin dan aktivitas mental dapat terpengaruh pada klien dengan anemia pernisiosa.
Penimbunan besi menyebabkan hepatomegali dan splenomegali pada klien dengan anemia defisiensi besi.
Dampak terhadap Struktur dan Fungsi Tubuh Lainnya
Peningkatan kecepatan denyut jantung karena tubuh berusaha memberi oksigen lebih banyak ke jaringan. Dapat terjadi gagal jantung akibat anemia berat. Peningkatan kecepatan pernapasan karena tubuh berusaha menyediakan lebih banyak oksigen kepada darah.
Mual akibat penurunan aliran darah saluran cerna dan susunan saraf pusat, splenomegali karena limpa membersihkan sel-sel yang mati, penimbunan besi menyebabkan hepatomegali.
Klien anemia beresiko terjadi dekubitus. Penurunan level hemoglobin mengurangi kapasitas darah membawa oksigen dan mengurangi jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Anemia juga mengganggu metabolisme sel dan mengganggu penyembuhan luka. (Potter & Perry, 2006 : 1260), dan penurunan kualitas rambut dan kulit, perdarahan dan mudahnya timbul memar.
Rasa lelah karena meningkatnya oksigenasi berbagai organ termasuk otot jantung dan rangka. Ataksia (gangguan koordinasi motorik dan berkurangnya sensorik mengisyaratkan disfungsi susunan saraf pusat dan degenerasi mielin dan aktivitas mental dapat terpengaruh, pusing akibat berkurangnya aliran darah ke otak, nyeri hebat akibat sumbatan vaskular pada serangan-serangan penyakit.
Manajemen Medik
Pemeriksaan penunjang pada anemia mencakup :
Biopsi sumsum tulang pada anemia aplastik
Pemeriksaan penurunan hematokrit, hemoglobin dan hitung sel darah merah
Pemeriksaan pranatal mengidentifikasikan adanya status homozigot pada janin (anemia sel sabit)
Analisis darah akan memperlihatkan sel-sel makrositik-normokromik (anemia pernisiosa dan defisiensi folat).
Analisis darah akan memperlihatkan sel-sel mikrositik-hipokromik dan penurunan besi serum (anemia defisiensi besi)
Pemeriksaan tinja untuk mencari darah samar mungkin positif yang mengisyaratkan perdarahan atau karsinoma saluran cerna (anemia defisiensi besi)
Pemeriksaan sumsum tulang memperlihatkan adanya penimbunan besi, sideroblas dan makrofag fagositik (anemia sideroblastik).
Penatalaksanaan akan tergantung pada jenis anemia yang dialami. Berikut adalah beberapa tata laksana pada anemia :
Obati penyakit yang mendasari apabila diketahui atau hindari bahan penyebab.
Transfusi untuk mengurangi gejala.
Transplantasi sumsum tulang
Immunosupresi apabila disebabkan oleh penyakit otoimun.
Obat untuk merangsang fungsi sumsum tulang mungkin efektif.
Antibiotik profilaktif dapat diberikan untuk mencegah infeksi.
Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah
Hidrasi yang baik dapat mengurangi oklusi.
Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen.
Penyuntikan vitamin B12.
Pemberian folat oral.
Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau, misalnya bayam.
Suplemen besi oral.
Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
Penyebab penyakit apabila berkaitan dengan obat harus disingkirkan.
Obat piridoksin mungkin dapat menyembuhkan penyakit.

November 29, 2009

0 Di Balik Keruhnya Ujian Nasional

Oleh : Ade Irawan, Sekretaris Koalisi Pendidikan, Anggota Badan Pekerja ICW) Tulisan ini diambil dari situs antikorupsi.org, 26 Februari 2009

Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Hanya, sementara Ebtanas berlaku pada semua level sekolah, UN hanya pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah umum (SMU), madrasah aliyah (MA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Untuk sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah luar biasa setingkat SD (SLB), dan madrasah ibtidaiyah (MI), Ebtanas diganti dengan ujian akhir sekolah.

Perdebatan muncul tidak hanya karena kebijakan UN yang digulirkan Departemen Pendidikan Nasional minim sosialisasi dan tertutup, tapi lebih pada hal yang bersifat fundamental secara yuridis dan pedagogis. Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan, setidaknya ada empat penyimpangan dengan digulirkannya UN.

Pertama, aspek pedagogis. Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan.

Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Pasal 58 ayat 1 menyatakan, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Kenyataannya, selain merampas hak guru melakukan penilaian, UN mengabaikan unsur penilaian yang berupa proses. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.

Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di-UN-kan di sekolah ataupun di rumah.

Keempat, aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN memboroskan biaya. Tahun lalu, dana yang dikeluarkan dari APBN mencapai Rp 260 miliar, belum ditambah dana dari APBD dan masyarakat. Pada 2005 memang disebutkan pendanaan UN berasal dari pemerintah, tapi tidak jelas sumbernya, sehingga sangat memungkinkan masyarakat kembali akan dibebani biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.

Selain itu, pada penyelenggaraan UAN tahun ajaran 2003/2004, Koalisi Pendidikan menemukan berbagai penyimpangan, dari teknis hingga finansial. Pertama, teknik penyelenggaraan. Perlengkapan ujian tidak disediakan secara memadai. Misalnya, dalam mata pelajaran bahasa Inggris, salah satu kemampuan yang diujikan adalah listening. Supaya bisa menjawab soal dengan baik, peserta ujian memerlukan alat untuk mendengar (tape dan earphone). Pada prakteknya, penyelenggara ujian tidak memiliki persiapan peralatan penunjang yang baik. Kedua, pengawasan.

Dalam penyelenggaraan ujian, pengawasan menjadi bagian penting dalam UAN untuk memastikan tidak terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh peserta. Fungsi pengawasan ini diserahkan kepada guru dengan sistem silang--pengawas tidak berasal dari sekolah yang bersangkutan, tapi dari sekolah lain. Tapi, pada kenyataannya, terjadi kerja sama antarguru untuk memudahkan atau memberi peluang siswa menyontek. Kasus di beberapa sekolah, guru, terutama untuk mata pelajaran yang dibuat secara nasional seperti matematika, bahasa Inggris, atau ekonomi, dengan berbagai modus memberi kunci jawaban kepada siswa.

Selain itu, pada tingkat penyelenggara pendidikan daerah seperti dinas pendidikan, usaha untuk menggelembungkan (mark-up) hasil ujian pun terjadi. Caranya dengan membuat tim untuk membetulkan jawaban-jawaban siswa.

Ketiga, pembiayaan. Dalam dua kali UAN, penyelenggaraannya dibebankan pada pemerintah pusat dan daerah melalui APBN dan APBD. Artinya, peserta ujian dibebaskan dari biaya mengikuti UAN. Tapi, pada tingkatan sekolah, tidak jelas bagaimana sistem penghitungan dan distribusi dana ujian (baik APBN maupun APBD). Posisi sekolah hanya tinggal menerima alokasi yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara di atasnya. Akibatnya, walau menerima dana untuk menyelenggarakan UAN, sekolah menganggap jumlahnya tidak mencukupi, sehingga kemudian membebankannya pada peserta ujian. Caranya dengan menumpangkan pada biaya SPP atau biaya acara perpisahan.

Sebenarnya, dalam pertemuan dengan Koalisi Pendidikan pada 4 November 2004, Menteri Pendidikan sudah menyatakan ketidaksetujuannya pada UAN dan akan menggantinya dengan ujian masuk pada sekolah-sekolah yang dianggap elite. Apalagi dukungan DPR pun tidak ada. Sebagai bentuk ketidaksetujuannya, Komisi Pendidikan DPR tidak mengalokasikan dana untuk UAN pada tahun 2005. Sayangnya, tiba-tiba Menteri Pendidikan menggulirkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 1 Tahun 2005 sebagai dasar Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan UN. Karena secara substansial tidak ada perbedaan signifikan antara UN tahun ajaran 2004/2005 dan UAN tahun ajaran 2002/2003 dan 2003/2004, perdebatan yang sama terjadi kembali.

November 28, 2009

0 Perawatan Luka

Definisi
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel

Mekanisme terjadinya luka :
1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7. Luka Bakar (Combustio)

Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka :
1. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
2. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.
3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
4. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :
Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.
Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi :
1. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.
2. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.


Proses Penyembuhan Luka
Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan “proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase :
1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga mengeluarkan “substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory nerve endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator (histamin, bradikinin, serotonin dan sitokin). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan lingkungan tersebut menjadi asidosis.
Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.

2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.

3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.
Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.

Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal. Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik (diabetes mielitus).

Faktor yang mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka
1. Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan
2. Infeksi
Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
3. Hipovolemia
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
4. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
5. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”).
6. Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
7. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
8. Pengobatan
• Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera
• Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
• Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.


NURSING MANAGEMENT
Dressing/Pembalutan
Tujuan :
1. memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
2. absorbsi drainase
3. menekan dan imobilisasi luka
4. mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
5. mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6. meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
7. memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien


ALAT DAN BAHAN BALUTAN UNTUK LUKA
Bahan untuk Membersihkan Luka
• Alkohol 70%
• Aqueous and tincture of chlorhexidine gluconate (Hibitane)
• Aqueous and tincture of benzalkonium chloride (Zephiran Cloride)
• Hydrogen Peroxide
• Natrium Cloride 0.9%

Bahan untuk Menutup Luka
• Verband dengan berbagai ukuran

Bahan untuk mempertahankan balutan
• Adhesive tapes
• Bandages and binders


KOMPLIKASI DARI LUKA
a. Hematoma (Hemorrhage)
Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada pasien, sehingga balutan dapat diinspeksi terhadap perdarahan dalam interval 24 jam pertama setelah pembedahan.
b. Infeksi (Wounds Sepsis)
Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi nosokomial di rumah sakit. Proses peradangan biasanya muncul dalam 36 – 48 jam, denyut nadi dan temperatur tubuh pasien biasanya meningkat, sel darah putih meningkat, luka biasanya menjadi bengkak, hangat dan nyeri.
Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :
• Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan
• Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang ditandai oleh : terkumpulnya pus (bakteri, jaringan nekrotik, Sel Darah Putih).
• Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau abses yang menuju ke sistem limphatik. Hal ini dapat diatasi dengan istirahat dan antibiotik.
c. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence adalah rusaknya luka bedah
Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam luka
d. Keloid
Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan. Keloid ini biasanya muncul tidak terduga dan tidak pada setiap orang.

November 24, 2009

0 Kenali Demam Pada Anak

Gejala sakit pada anak yang sering kita jumpai adalah demam. Sebenarnya apakah demam itu dan bagaimana kita menyikapinya, khususnya bila demam terjadi pada anak-anak kita? Insya Allah, dalam tulisan ini akan dibahas tentang demam pada anak.
Apa itu Demam dan Bagaimana Terjadinya?
Demam adalah gejala berupa naiknya suhu tubuh sebagai respon normal tubuh terhadap suatu gangguan. Suhu tubuh diukur dengan termometer, dikatakan demam bila:
Suhu rektal (di dalam dubur): lebih dari 38ºC
Suhu oral (di dalam mulut): lebih dari 37.5ºC
Suhu ketiak: lebih dari 37.2ºC
Termometer bentuk dot bayi digital: lebih dari 37.8ºC
Suhu telinga: mode rektal: lebih dari 38ºC; mode oral: lebih dari 37.5ºC
Suhu tubuh dikendalikan oleh suatu bagian dari otak yang disebut hipotalamus.

Hipotalamus berusaha agar suhu tubuh tetap hangat (36,5-37,5 ºC ) meskipun lingkungan luar tubuh berubah-ubah. Hipotalamus mengatur suhu dengan cara menyeimbangkan antara produksi panas pada otot dan hati dan pengeluaran panas pada kulit dan paru-paru. Ketika ada infeksi, sistem kekebalan tubuh meresponnya dengan melepaskan zat kimia dalam aliran darah. Zat kimia tersebut akan merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh dan akhirnya akan menambah jumlah sel darah putih yang berguna dalam melawan kuman.
Apa saja penyebab demam?
Infeksi merupakan penyebab terbanyak demam pada anak-anak. Infeksi adalah keadaan tubuh yang dimasuki kuman penyebab penyakit, bisa virus, parasit, atau bakteri. Contoh penyakit infeksi dengan gejala demam adalah flu, radang saluran pencernaan, infeksi telinga, croup, dan bronkhiolitis. Beberapa imunisasi anak-anak juga dapat menyebabkan demam. Kapan demam akan timbul tergantung dari vaksinasi yang diberikan (biasanya imunisasi DTP, HiB, dan MMR). Sedangkan anak yang sedang tumbuh gigi, menurut suatu penelitian, tidak menyebabkan demam.
Bagaimana cara mengukur suhu tubuh anak?
Cara paling akurat adalah dengan suhu rektal. Namun, mengukur suhu oral bisa akurat bila dilakukan pada anak di atas 4-5 tahun, atau suhu telinga pada anak di atas 6 bulan. Mengukur suhu ketiak adalah yang paling kurang akurat, namun dapat berguna saat dilakukan pada anak kurang dari 3 bulan. Bila suhu ketiak lebih dari 37.2ºC, maka suhu rektal harus diukur. Di sisi lain, tidaklah akurat bila mengukur suhu tubuh dengan merasakan kulit anak. Hal ini disebut suhu taktil (sentuhan) karena bersifat subyektif, yaitu pengukuran sangat dipengaruhi oleh suhu orang yang merasakan kulit si anak. Berikut cara mengukur suhu anak:
Suhu rektal: anak dibaringkan di pangkuan pemeriksa dengan perut sebagai dasarnya, sebelumnya oleskan sedikit krim atau jely pelumas (misal: Vaseline) pada ujung termometer, masukkan termometer dengan hati-hati ke dubur anak sampai ujung perak termometer tidak terlihat (0,5-1,25 cm di dalam dubur), tahan termometer pada tempatnya. Tahan selama 2 menit untuk termometer raksa atau kurang dari 1 menit untuk digital.
Suhu oral: yang perlu diperhatikan adalah jangan mengukur suhu pada mulut anak bila anak makan atau minum yang panas atau dingin dalam 30 menit terakhir. Sebelumnya bersihkan termometer dengan air dingin dan sabun kemudian bilas dengan air sampai bersih. Tempatkan ujung termometer di bawah lidah ke arah belakang. Minta anak untuk menahan termometer dengan bibirnya. Upayakan bibirnya menahan termometer selama kira-kira 3 menit untuk termometer raksa atau kurang dari 1 menit untuk digital.
Suhu ketiak: tempatkan ujung termometer di ketiak anak yang kering kemudian Tahan termometer dengan mengempitnya antara siku dengan dada selama 4-5 menit.
Suhu telinga: perlu diperhatikan bahwa termometer telinga tidak digunakan untuk anak di bawah 6 bulan. Bila anak baru dari luar rumah di mana cuaca sedang dingin, tunggu 15 menit sebelum mengukur suhu telinga. Infeksi telinga tidak mempengaruhi akurasi suhu telinga. Caranya, ibu harus menarik telinga ke arah luar-belakang sebelum memasukkan termometer kemudian tahan alat di telinga anak selama kira-kira 2 detik.
Bagus mana? Termometer digital atau raksa?
Termometer digital murah, mudah didapat, dan cara paling akurat untuk mengukur suhu. Sedangkan termometer raksa mengandung merkuri yang berbahaya saat terpapar ke tubuh, bila termometer pecah. Bila yang ada hanya termometer raksa, pastikan untuk hati-hati saat menggoyang-goyang termometer gelas sebelum digunakan.
Bagaimana sikap kita saat anak demam?
Sangatlah penting bagi orang tua untuk tahu kapan anak demam harus diperiksakan ke dokter atau dirawat sendiri.Di bawah ini adalah kondisi anak demam yang harus diperiksakan ke dokter atau tempat pelayanan kesehatan:
Anak di bawah 3 bulan dengan suhu 38ºC atau lebih, tanpa melihat penampakan anak (meskipun anak tampak baik).
Anak di atas 3 bulan dengan suhu 38ºC atau lebih selama lebih dari 3 hari atau tampak sakit (rewel dan menolak minum).
Anak 3-36 bulan dengan suhu 38.9ºC atau lebih.
Anak segala usia dengan suhu 40ºC atau lebih.
Anak segala usia yang mengalami kejang demam (step). Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan – 5 tahun dengan suhu 38º C atau lebih.
Anak segala usia yang mengalami demam berulang.
Anak segala usia yang demam dengan penyakit kronis, seperti penyakit jantung, kanker, lupus, atau anemia bulan sabit.
Anak demam yang disertai munculnya ruam-ruam di kulit.
Anak dapat dirawat sendiri oleh orang tua bila anak berumur lebih dari 3 bulan dengan suhu kurang dari 38.9ºC, dan anak tampak sehat serta berperilaku normal.
Langkah-langkah yang bisa kita lakukan saat anak demam antara lain:
Obat untuk Demam pada Anak
Perawatan paling efektif untuk demam adalah menggunakan obat penurun panas seperti Parasetamol (contoh: Pamol®, Sanmol®, Tempra®l) atau Ibuprofen (contoh: Proris®). Terdapat berbagai macam sediaan di pasaran seperti: tablet, drops, sirup, dan suppositoria. Pengobatan ini dapat mengurangi ketidaknyamanan anak dan menurunkan suhu 1 sampai 1,5 ºC. Sedangkan Aspirin tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 18 tahun karena dapat menyebabkan efek samping penyakit serius yang disebut sindrom Reye, meskipun angka kejadian penyakit ini jarang.
Parasetamol dapat diberikan setiap 4 sampai 6 jam sesuai kebutuhan. Bila suhu tetap tinggi meskipun parasetamol telah diberikan dan anak berumur lebih dari 6 bulan, Parasetamol diganti dengan Ibuprofen yang dapat diberikan setiap 6-8 jam. Dosis parasetamol atau ibuprofen harus diperhitungkan berdasarkan berat badan (bukan umur), yaitu: parasetamol: 10-15 mg/kilogram berat badan anak setiap kali pemberian, maksimal 60 mg/kilogram berat badan/hari. Sedangkan Ibuprofen: 5-10 mg/kilogram berat badan anak setiap kali pemberian, maksimal 40 mg/kilogram berat badan/hari. Contoh: bila anak dengan berat 12 kg, diberikan sirup Parasetamol 12 x (10 sampai 15) mg = 120 mg sampai 180 mg sekali minum. Apabila orang tua kesulitan dalam menghitung dosis hendaknya berkonsultasi dengan apoteker atau farmasis. Jangan asal-asal dalam menentukan dosis obat pada anak. Adapun obat yang telah diresepkan oleh dokter maka patuhilah aturan pemakaian obat dari dokter. Apabila orang tua merasa ragu jangan segan-segan meminta informasi kepada dokter yang meresepkan.
Sekilas tentang Kompres
Mengompres dilakukan dengan handuk atau washcloth (washlap atau lap khusus badan) yang dibasahi dengan dibasahi air hangat (30ºC) kemudian dilapkan seluruh badan. Penurunan suhu tubuh terjadi saat air menguap dari permukaan kulit. Oleh karena itu, anak jangan “dibungkus” dengan lap atau handuk basah atau didiamkan dalam air karena penguapan akan terhambat. Tambah kehangatan airnya bila demamnya semakin tinggi. Dengan demikian, perbedaan antara air kompres dengan suhu tubuh tidak terlalu berbeda. Jika air kompres terlalu dingin akan mengerutkan pembuluh darah anak. Akibatnya, panas tubuh tidak mau keluar. Anak jadi semakin menggigil untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuhnya.
Mengompres dapat pula dilakukan dengan meletakkan anak di bak mandi yang sudah diisi air hangat. Lalu basuh badan, lengan, dan kaki anak dengan air hangat tersebut. Sebenarmya mengompres kurang efektif dibandingkan obat penurun demam. Bila ibu memakai metode kompres, hendaknya digabungkan dengan pemberian obat penurun demam, kecuali anak alergi terhadap obat tersebut.
Ingat! Jangan mengompres dengan alkohol karena uap alkohol dapat terserap ke kulit atau paru-paru anak. Membedong anak di bawah umur 3 bulan dengan banyak pakaian atau selimut dapat sedikit menaikkan suhu tubuh. Menurut penelitian, suhu rektal 38.5ºC atau lebih tidak dihubungkan dengan membedong dengan kain tebal tadi. Oleh karena itu, dianjurkan bila anak demam, cukup memakai baju atau selimut tipis saja sehingga aliran udara berjalan baik.
Menaikkan Asupan Cairan Anak
Demam pada anak dapat meningkatkan risiko terkena dehidrasi (kekurangan cairan). Tanda dehidrasi paling mudah adalah berkurangnya kencing dan air kencing berwarna lebih gelap daripada biasanya. Maka dari itu, orang tua sebaiknya mendorong anak untuk minum cairan dalam jumlah yang memadai. Anak dengan demam dapat merasa tidak lapar dan sebaiknya tidak memaksa anak untuk makan. Cairan seperti susu (ASI atau sapi atau formula) dan air harus tetap diberikan atau bahkan lebih sering. Anak yang lebih tua dapat diberikan sup atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bila anak tidak mampu atau tidak mau minum dalam beberapa jam, orang tua sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Istirahatkan Anak Saat Demam
Demam menyebabkan anak lemah dan tidak nyaman. Orang tua sebaiknya mendorong anaknya untuk cukup istirahat. Sebaiknya tidak memaksa anak untuk tidur atau istirahat atau tidur bila anak sudah merasa baikan dan anak dapat kembali ke sekolah atau aktivitas lainnya ketika suhu sudah normal dalam 24 jam.
Selama anak demam, orang tua hendaknya tetap memperhatikan gejala-gejala lain yang muncul. Tanyakan pada anak, adakah keluhan lain yang dirasakan, semisal: pusing, sakit kepala, nyeri saat kencing, kesulitan bernafas, dan lain-lain. Karena demam bisa jadi merupakan tanda bahwa ada gangguan pada kesehatan anak atau gejala dari penyakit tertentu. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya bijaksana dalam menghadapinya. Orang tua hendaknya tahu kapan anak dengan demam dapat dirawat sendiri di rumah atau diperiksakan ke tempat pelayanan kesehatan.

November 23, 2009

2 Perlukah Demam Berdarah Dirawat di Rumah Sakit

Beberapa kali dari pertemuan dengan pasien, teman dekat dan handai taulan, muncul pertanyaan seperti di atas. Apakah memang kasus demam berdarah dengue (DBD) dapat dirawat sendiri di rumah? Apa bahaya dan konsekuensinya kalau tidak masuk rumah sakit?

Kita tahu bahwa setiap penyakit memiliki karakteristiknya sendiri-sendui. Begitu juga dengan DBD. Karakteristik yang dimiliki masing masing penyakit membuatnya memiliki indikasi membutuhkan perawatan rumah sakit atau cukup berobat jalan saja.

Penyakit yang memerlukan perawatan rumah sakit sudah barang tentu membutuhkan fasilitas medis yang tidak mungkin dikerjakan sendiri di nunah seperti kalau sedang menghadapi kasus flu atau diare.

Bahwa ada kondisi tertentu, dengan cara memindahkan fasilitas medis sederhana ke runah, sehingga pasien dapat menempuh perawatan di runah, bisa saja terjadi. Home care kini banyak dilakukan untuk kasus menahun (kronis), misalnya. Dokter keluarga secara rutin berkunjung ke rumah pasien dengan penyakit menahun amok melakukan pemeriksaan rutin. Namun, ini jarang dapat dilakukan amok kasus dadakan dan tergolong berat.

Kasus DBD
DBD bertabiat khas. la datang mendadak, sering tanpa gejala nyata, serangannya sering membahayakan, dan tidak jarang membutuhkan bantuan kedaruratan medis. Betul tidak semua akan berakhir buruk. Namun, kemungkinan menjadi buruk tak mudah dideteksi atau diantisipasi secara medis hanya dengan melihat tanda dan gejala perjalanan penyakitnya belaka.

Kita tahu kalau setiap penyakit menempuh perjalanannya sendiri-sendiri. Ada penyakit infeksi, ada pula bukan penyakit infeksi. Demikian pula halnya dengan infeksi DBD. Pada semua kasus infeksi, perjalanan penyakit diawali dengan masa tunas (inkubasi), bibit penyakit mengacaukan tubuh, lalu terjadi pertempuran di dalam tubuh.

Orang menjadi jatuh sakit apabila tubuh kalah dalam pertempuran. Sebaliknya, jadi batal jatuh sakit jika tubuh memenangkan pertempurannya melawan bibit penyakit. Itu maka memang tidak setiap tubuh yang dimasuki bibit penyakit pasti selalu akan jatuh sakit. Hal itu ditentukan oleh ketahanan tubuh masing-masing orang.

Ketahanan tubuh ditentukan oleh sistem imunitas pribadi. Sistem imunitas sendiri terbentuk sejak bayi yang sebagian diwariskan dari ibu, selain oleh imunisasi (aktif) sebagai fondasi kekebalan tubuh. Semakin lengkap dan sempurna vaksinasi diberikan, semakin kokoh benteng pertahanan tubuh.

Namun, tidak semua bibit penyakit yang ada di alam, ada cara untuk mengebalkannya. Belum ada vaksin untuk herpes, flu burung, atau DBD, misalnya, sehingga orang belum mungkin bisa terbebas dari ancaman ketiga jenis virus ini.

Lalu, bagaimana menangkalnya agar tidak sampai dibuatnya jatuh sakit?

Dengan memotong rantai penularannya. Untuk itu harus mengenali bagaimana suatu penyakit infeksi menular. Penularan sendiri ada yang melalui mulut (makanan-minuman tercemar), melalui udara (air-borne), melalui persinggungan langsung dengan pasien, atau lewat gigitan serangga, hewan, selain tertular oleh penyakit bukan milk manusia (zoonosis).

DBD disebabkan oleh virus dengue yang dalam peijalanannya harus melalui tubuh nyamuk Aedes aegyptL Setelah berproses di dalam tubuh nyamuk, virus baru memasuki tubuh manusia.

Oleh karena virus dengue tidak tampak dan sukar dilacak keberadaannya, upaya tepat mencegah DBD ditempuh hanya dengan cara meniadakan nyamuk pembawa virusnya. Bisa menekan populasi nyamuk dengan membasmi bayi nyamuk paiva) memakai larvicide (abate), selain perlu pula membunuh nyamuk dewasa dengan pengasapan (fogging).

Apabila program abatisasi (pembubuhan abate ke wadah air jernih tergenang di rumah) dan fogging kurang berjalan, upaya pencegahan DBD tidak akan berhasil dan penyakit DBD merajalela. Abatisasi khususnya di wilayah endemik langganan penyakit tahunan) dilakukan sebelum muncul kasus, yakni menjelang dan sewaktu musim penghujan, sedangkan fogging hanya dikerjakan bila sudah muncul kasus.

Gejala Tak Nyata
Sebagaimana rata-rata penyakit lain, gejala DBD juga sering tak nyata, bahkan oleh penglihatan medis sekalipun. Tak cukup hanya dengan melihat gejala klinis belaka karena belum tentu tanda perdarahan kulit (ptechiae, lebam) atau muntah darah, berak darah, selalu muncul pada setiap kasus. Sering-sering hanya demam belaka. Dan ini susahnya.

Banyak kasus DBD hanya menyerupai flu belaka. Tiba-tiba demam, nyeri kepala, badan ngilu, lemas, dan terasa tidak enak sekali. Mungkin disertai mual dan ingin muntah. Sampai di sini tidak ada bedanya dengan kasus flu.

Setelah perjalanan penyakit lebih lanjut, mungkin dokter baru akan meraba hati membengkak. Namun, tanda ini pun bukan hanya milk DBD. Pada tifus juga bisa seperti itu.

Cara satu-satunya untuk mengendus kemungkinan DBD agai tidak sampai kecolfgan, ditempuh dengan cara pemeriksaan laboratorium darah. Sekurang-kurangnya menghitung sel pembeku darah (trombosit), Hb (hemoglobin), sel darah putih (leukosit), dan sel muda Ht (hematosit). Dari gambaran hasil pemeriksaan darah itu paling tidak bisa muncul kecurigaan atau bahkan sudah jelas keberadaan penyakitnya.

Kapan Periksa?
Pada keadaan endemik DBD, di wilayah langganan terjangkit DBD, setiap kasus demam harus dicurigai sebagai DBD. Proses penyakit DBD berjalan cepat. Dari semula hanya demam saja, dalam hitungan hari bisa mendadak syok kalau virusnya 'ganas' dan atau kondisi tubuh pasiennya rentan terkena.

Namun, bisa terjadi ketika darah diperiksa, penyakit masih di awal-awal, sehingga belum menunjukkan hasil darah yang menimbulkan kecurigaan DBD. Belum tampak perubahan darah yang bermakna untuk menuduh kalau itu suatu DBD. Itu maka, pemeriksaan darah perlu dilakukan berulang, mungkin selang waktu setengah hari.

Begitu terlihat ada perubahan basil darah yang mengarah ke DBD. bisa disimnulkan kalau itu kasus DBD. Trombosit, Hb, dan leukosit menurun, dan Ht meningkat, ini hasil yang spesifik pada kasus DBD. Lebih nyata lagi bila pemeriksaan imunoglobulin spesifik untuk dengue (IgM, IgG) juga positif, sehingga kehadiran DBD tak dapat disangkal lagi.

Jadi tidak salah apabila sedang berjangkit DBD, apalagi di wilayah endemik atau ada tetangga yang sudah terkena DBD, gejala flu saja sudah harus dicurigai sebagai DBD. Sebab, sering perjalanan penyakit bisa langsung menjadi berat atau tak terduga.

Antisipasi Syok
Salah satu bahaya serangan DBD adlah kalau sempat muncul syok atau renjatan. Syok terjadi bisa karena tipe virus yang menyerangnya tergolong ganas, sehingga perjalanan penyakitnya langsung potong kompas masuk ke dalam kondisi syok.

Sebagian kecil kasus DBD memasuki status yang berat (dengue shock syndrome). Keadaan ini bukan saja memerlukan pertolongan rumah sakit, melainkan juga perawatan intensif karena lekas sekali merenggut nyawa kalau terlambat ditolong.

Syok juga dapat terjadi apabila kasus DBD yang bukan tergolong syok terlambat mendapat perawatan. Semakin lama penyakit berlangsung di dalam tubuh tanpa pertolongan semestinya, semakin banyak cairan tubuh yang berpindah keluar dari pembuluh darah (merembas).

Akibatnya, terjadi kekurangan cairan dalam darah yang perlu secara dikoreksi dengan ekstra minum, agar tidak jatuh syok.

Perlu Banyak Minum
Kematian pada kasus DBD lantaran syok tak terangkat. Untuk mengantisipasi ancaman kekurangan cairan tubuh, pada kasus demam dengan kecurigaan DBD, sebaiknya pasien diberi minum lebih banyak, selain lebih sering. Tujuannya, sekiranya benar itu kasus DBD, tubuh sudah diberikan cadangan cairan yang tidak lekas sampai kekurangan, sehingga ancaman terjadinya syok bisa lebih diulur.

Namun, kita tidak bisa menilai hanya dari luar saja kalau penyakit DBD sudah mengganas di dalam tubuh. Kita tahu, penyakit DBD berlangsung sengit di dalam tubuh. Dan itu peristiwa imunologis dalam darah. Semakin sengit pertempuran, semakin luas kerusakan pembuluh darah terjadi serta akibat yang ditimbulkannya.

Kebocoran Binding pembuluh darah yang luas Ban merata membutuhkan lebih banyak sel pembeku trombosit untuk menambalnya. Tingkat penurunan trombosit mencerrninkan luasnya kerusakan pembuluh darah tubuh yang terjadi. Keadaan ini hanya dapat dikoreksi dengan penambahan cairan, dan pada saatnya nanti, mungkin diperlukan juga transfusi darah (trombosit).

Oleh karena variabel suatu kasus DBD untuk jatuh syok ada beberapa, memang tidak mudah meramalkan akan bagaimana status pasien dalam hitungan dart jam ke jam karena itu semua merupakan proses di dalam tubuh.

Tidak semua gejala perdarahan terlihat dari luar. Tidak semua kasus DBD khas ada bintik-bintik merah. Yang tidak berbintik merah, mungkin saja sudah terjadi perdarahan di hati, jantung, ginjal, atau organ tubuh lainnya.

Bila perdarahan berlangsung di organ dalaman tubuh, tidak terlihat bagaimana besar perdarahan yang mungkin sudah berlangsung di dalam organ-organ dalam tubuh, seberapa luas, seberapa banyak, kecuali memonitornya dari pemeriksaan darah berkala setiap beberapa jam sekali yang tampak cenderung terus memburuk. Kuncinya memang melakukan pemeriksaan darah dari waktu ke waktu.

Terus Dimonitor
Untuk alasan itulah kasus DBD yang di penglihatan dokter menampakkan kondisi yang memburuk, menjadi salah satu indikasi suatu kasus DBD untuk dirawat di rumah sakit. Seberapa cepat hasil darah memburuk, dan seberapa lekas kondisi pasien memburuk, dokterlah yang dapat melakukan analisis.

Analisis juga harus dipantau dari tanda bakal munculnya syok, sehingga tekanan darah, tekanan nadi (selisih sistolik dan diastolik), dan hitung nadi menjadi penting untuk dimonitor terus. Untuk itu juga memerlukan kompetensi rumah sakit. Ada saat-saat selama pemantauan perlu diambil keputusan kapan pasien memerlukan perawatan intensif, yang bisa datang cepat dan dadakan.

Bagi yang memiliki dokter keluarga (family doctor), lebih bisa menunggu (menunda) saat yang tepat kapan pasien DBD perlu dirujuk ke rumah sakit dan kapan cukup dirawat di rumah saja dengan catatan. Catatan untuk melakukan pemantauan sendiri di rumah dengan melakukan pemonitoran tekanan darah dan nadi dan waktu ke waktu dan terus memberi banyak minum. Sebaiknya minuman sejenis oralit.

Adakalanya kasus DBD memang cukup dirawat di rumah saja. Jika tergolong ringan atau kasus demam lima hari (dengue fever) belaka dan belum masuk ke kasus DBD (dengue hemorhagic feuer), perawatan sendiri di rumah saja sudah memadai.

0 Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. (Suriadi et al, 2001: 58) Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. Uji torniket akan positif dengan atau tanpa ruam disertai beberapa atau semua gejala perdarahan ptekie spontan yang timbul serentak, purpura, ekimosis, epistaksis, haematemesis, melena, trombositopenia, masa perdarahan dan masa protombin memanjang, Hematokrit meningkat dan gangguan maturasi megakariosit. Hendarwanto, 2001: 4417).

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit demam akut dengan ciri – ciri demam manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian. (SMF Ilmu kesehatan Anak FK. Universitas Padjajaran / RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung, 2000 : 214). Demam berdarah Dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus dengue yang ditandai dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. (Mansjoer et al, 2000 : 419)

Sesuai dengan pengertian di atas, DBD disebabkan oleh virus Dengue yang termasuk genus Flavivirus, famili Flaviviridae masuk dalam golongan virus RNA dan sangat patogen terhadap manusia. Secara antigenik virus dengue mempunyai empat macam strain yaitu DEN-1, 2, 3, 4. Setiap strain mempunyai daya virulensi yang berbeda sehingga tidak mudah membedakan antara strain hanya dengan melihat gejala klinisnya. Untuk dapat membedakan macam strain yang menginfeksi tubuh harus menggunakan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Soegijanto (2003 : 83) meyatakan bahwa protein E adalah protein envelop utama dari virion dan memegang peranan penting pada proses perangkaian virion, ikatan reseptor, penggabungan membran dan target utama antibodi netralisasi. Sedangkan protein Pr-M merupakan prekusor glikolisasi protein struktur M dan dapat menstimulasi antibodi inetralisasi dan protektif akibat pemecahan protein Pr-M yang tidak sempurna, namun protein yang terpenting dalam proses antibodi yang protektif adalah protein E karena protein ini lah yang berperan dalam penggabungan membran virus dengan molekul reseptor sel. Virus dengue memiliki inti tunggal yaitu Single Stranded RNA (ssRNA) yang diorganisasi di dalam single Open Reading Frame ORF) dengan gen yang mengkode beberapa protei yang menyelubunginya. (Soegijanto, 2003 : 85)

Anatomi Fisiologi Darah
Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang mengandung elektrolit. Peranannya sebagai medium pertukaran antara sel – sel yang terfiksasi dalam tubuh dan lingkungan luar serta memiliki sifat – sifat protektif terhadap organisme sebagai suatu keseluruhan dan khususnya terhadap darah sendiri.

Trombosit dan Faktor Pembekuan
Trombosit atau platelet bukan merupakan sel, melainkan pecahan granular sel berbentuk piringan tidak berinti. Trombosit adalah bagian terkecil dari unsur selular sumsum tulang belakang dan sangat penting peranannya dalam homeostasis dan pembekuan darah. Trombosit berdiameter 1 – 4 mikron berumur kira – kira 10 hari. Kira – kira sepertiga berada dalam limpa sebagai cadangan dan selebihnya berada dalam peredaran darah berjumlah antara 150.000 – 400.000 / mm3. Faktor pembekuan, kecuali faktor III dan IV merupakan protein plasma. Faktor – faktor ini bersirkulasi dalam darah sebagai molekul – mulekul yang tidak aktif dan disintesis di hati.

Trombositopenia
Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah trombosit di bawah 100.000 / mm3. Ini bisa disebabkan oleh pembentukan trombosit yang berkurang atau penghancuran yang meningkat.

Hematokrit
Hematokrit yaitu suatu nilai kadar sel darah yang terdapat di dalam plasma darah. Semakin tinggi nilai hematokrit, semakin tinggi viskositas atau kekentalan darah. Nilai hematokrit normal untuk pria berkisar antara 45 – 52 %, sedangkan nilai hematokrit normal untuk wanita berkisar antara 36 – 48 %.

Patogenesis dan Patofisiologi
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Organ sasaran virus ini yaitu hepar, nodus limfatikus, sumsum tulang serta paru – paru. Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi di dalam sel yang diserangnya. Infeksi virus dengue dimulai dengan menempelnya virus, selanjutnya genom virus masuk ke dalam sel dengan bantuan organel – organel sel. Genom virus membentuk komponen – komponen antara dan struktural. Setelah komponen virus dirakit, virus dikeluarkan dari dalam sel.

Setelah tubuh terinfeksi akan terjadi kompleks virus – antibodi dalam sirkulasi darah dan menyebabkan beberapa hal, diantaranya :
Aktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilaktosin C3a dan C5a yang menyebabkan meningginya permeabilitas pembuluih darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding tersebut, suatu keadaan yang amat berperan dalam timbulnya renjatan.
Timbulnya agregasi trombosit yang melepaskan Adeno Diposphate (ADP)akan mengalami metamorfosis. Trombosit yang mengalami kerusakan metamorfosis akan dimusnahkan oleh sistem retikuloendotel sehingga terjadi penurunan faktor koagulasi (Prorombin, faktor V, VII, IX, X dan Fibrinogen) mengakibatkan trombositopenia hebat dan perdarahan. Pada keadaan agregasi, trombosit akan melepaskan amin vasoaktif (histamin dan serotinin) yang bersifat meninggikan permeabilitas kapiler dan melepaskan trombosit faktor 3 yang merangsang koagulasi intravaskuler.
Terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) yang mengakibatkan terjadinya bekuan intravaskuler yang meluas. Disamping itu aktivasi ini juga merangsang sistem kinin yang berperan dalam peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
Dari berbagai faktor di atas akan terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan kelainan hemostasis yang menyebabkan terjadinya perdarahan, hipotensi hingga terjadinya renjatan dan bila keadaan hipotensi tidak teratasi, maka akan terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.

Klasifikasi
WHO membagi DBD ke dalam 4 derajat, yaitu :
Derajat I : Demam dan uji torniket positif.
Derajat II : Demam dan perdarahan spontan, pada umumnya di kulit dan atau perdarahan lainnya.
Derajat III : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala – gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ) atau hipotensi disertai ekstremitas dingin dan anak gelisah. Derajat IV : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala renjatan hebat ( nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur. Gejala klinik utama pada DBD adalah demam dan manifestasi perdarahan baik yang timbul secara spontan maupun setelah uji torniquet. Untuk menegakkan diagnosis klinik DBD, WHO ( 1986 ) menentukan beberapa patokan gejala klinik dan laboratorium. Gejala Klinik Terdapat beberapa gejala klinik pada DBD, yaitu : Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2 – 7 hari. Manifestasi perdarahan Hepatomegali Renjatan, nadi cepat dan lemah tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg ) atau nadi tidak teraba, kulit dingin dan anak gelisah. Laboratorium Trombositopenia ( < 100.000 sel / ml ) Hemokonsentrasi ( kenaikan Ht 20 % dibandingkan fase konvalesen ) Pemeriksaan Penunjang Pada foto paru kadang terlihat adanya efusi pleura dan asites terlihat dengan pemeriksaan USG. Selain pemeriksaan USG dan pencitraan radiologis, juga dapat dilakukan pemeriksaan isolasi virus dari biakan darah penderita DBD sehingga dapat diketahui jenis virus yang menginfeksi. (Seogijanto, 2003 : 30) Dampak DBD pada berbagai sistem lain akan bergantung pada fase DBD yang terjadi, diantaranya : Sistem Kardiovaskuler Ditemukan peningkatan permeabilitas pembuluh darah akibat pengeluaran histamin, perdarahan akibat trombositopenia dan gangguan faktor pembekuan, dan bila terjadi renjatan akan ditemukan penurunan tekanan nadi (< 20 mmHg), nadi cepat dan lemah bahkan bisa tidak teraba, CRT > 2 detik, akral dingin, hipotensi sampai terjadi DIC.
Sistem Pernapasan
Effusi pleura dapat terjadi akibat kebocoran plasma, dan terjadi sianosis serta hipoksia sampai anoksia bila terjadi renjatan.
Sistem Pencernaan
Dapat ditemukan mual, muntah, nyeri abdomen dan ulu hati, perdarahan gusi, diare, konstipasi, hematemesis, melena, asites akibat kebocoran plasma, hepatomegali dan pembesaran limpa.
Sistem Integumen
Trombositopenia akan mengakbiatkan dampak pada sistem integumen berupa manifestasi perdarahan di bawah kulit seperti ptekie, ekimosis, hematoma, purpura, dan bila terjadi renjatan ditemukan gejala kulit dingin dan lembab.
Sistem Muskuloskeletal
Dilepaskannya histamin dan serotinin dapat menstimulasi saraf nyeri yang ditransmisikan ke pusat nyeri di cortex cerebri berupa nyeri otot dan tulang serta sendi.
Sistem Neurologis
Nyeri kepala terjadi dapat diakibatkan peningkatan suhu tubuh dan klien menjadi gelisah saat terjadi renjatan.
Sistem Perkemihan
Status homeostasis yang buruk akibat penurunan volume cairan tubuh oleh kebocoran plasma dan tidak tertanggulangi, maka dapat menyebabkan adanya gangguan pada fungsi ginjal.

Penatalaksanaan pada DBD dibagi kedalam 2 kategori yaitu kasus DBD yang diperkenankan rawat jalan dan kasus DBD yang dianjurkan rawat inap. ( Soegijanto, 2003 : 42 )

Kasus DBD yang diperkenankan rawat jalan
Bila klien hanya mengeluh panas, tetapi keinginan makan dan minum masih baik dapat diperkenankan berobat jalan. Untuk mengatasi panas tinggi mendadak dapat diberikan Paracetamol 10 – 15 mg / kg BB setiap 3 – 4 jamdan dapat diulang jika gejala panas masih nyata di atas 38,5O C. Obat penurun panas salisilat tidak dianjurkan karena mempunyai resiko penyulit perdarahan dan asidosis. Sebagian besar klien yang berobat jalan adalah kasus DBD yang menunjukkan manifestasi panas tinggi pada hari pertama dan hari kedua tanpa penyulit lainnya. Apabila klien DBD menunjukkan gejala penyulit lainnya, maka kasus ini dianjurkan untuk menjalani rawat inap agar mendapatkan pengawasan yang lebih baik.

Kasus DBD yang dianjurkan rawat inap
Penatalaksanaan kasus DBD yang dianjurkan rawat inap dibagi menurut derajat DBD yang dialami.
Penatalaksanaan DBD derajat I dan II
Klien DBD yang mengalami panas tinggi hari ke 3, 4 dan 5 serta menunjukkan gejala akral dingin, nyeri perut dan produksi urine kurang sebaiknya menjalani rawat inap. Penatalaksanaan pada DBD derajat I dan II meliputi pemantauan Ht dan trombosit, pemberian cairan yang terkontrol, pemberian antibiotik serta pemberian therapi penurun panas.

Jenis cairan yang dapat diberikan pada penatalaksanaan DBD derajat I – II adalah :
Kristaloid
Ringer Laktat ( RL )
5% Dekstrose dalam larutan RL
5% Dekstrose dalam larutan Ringer Asetat
5% Dekstrose dalam larutan setengah normal garam fisiologi ( faali )
5% Dekstrose dalam larutan normal garam fisiologi ( faali )
Koloidal
Plasma expander dengan berat molekul rendah ( Dekstrana 40 )

Penatalaksanaan DBD derajat III dan IV
Pada DBD derajat III dan IV dapat terjadi Dengue Shock Syndrome yang termasuk kasus kegawatan yang memerlukan pengawasan secara tepat dan memerlukan penggantian cairan secara cepat, sehingga status homeostasis cairan dan elektrolit tubuh terkontrol untuk menghindari komplikasi lebih parah serta kematian.. Berikut adalah alur tatalaksana pemberian cairan pada derajat ini.

Kriteria Memulangkan Pasien
Menurut Soegijanto ( 2003 : 48 ), pasien dapat dipulangkan apabila :
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik, nafsu makan membaik, tampak perbaikan secara klinis, hematokrit stabil, tiga hari setelah syok teratasi, jumlah trombosit > 50.000 / ml serta tidak dijumpai distress pernapasan.

November 22, 2009

2 Tips Bekerja di Luar Negeri

Siapa perawat yang tidak ingin bekerja diluar negeri? Sebagian besar perawat Indonesia berharap bisa bekerja diluar negeri. Selain gajinya berlipat-lipat dibandingkan di Indonesia, diluar negeri juga memungkinkan pengembangan skill keperawatan yang lebih baik.

Barangkali 3 langkah pertama ini bisa menjadi panduan awal bagi anda yang ingin bekerja diluar negeri:

Pertama, tentukan di negara mana anda ingin bekerja. Hal ini penting, mengingat tiap negara tujuan berbeda karakteristiknya. Sesuaikan dengan keinginan dan cita-cita anda.

Kedua, tentukan anda ingin bekerja berfokus dimana. Apakah di bagian medikal bedah, anak, gerontik, komunitas, jiwa, atau yang mana. Hal ini tentu saja anda harus sesuaikan dengan kemampuan dasar dan minat anda.

Ketiga, temukan apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Sertifikasi, pengalaman, bahasa, dan sebagainya, harus anda tahu. Sehingga anda memiliki gambaran apa yang harus anda kerjakan selanjutnya.

Sederhana, namun bisa dijadikan pedoman untuk melangkah bekerja diluar negeri. Siapapun bisa bekerja diluar negeri, termasuk anda, yakinlah…

November 18, 2009

0 STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA

STANDAR I: PENGKAJIAN

Perawat kesehatan jiwa mengumpulkan data kesehatan pasien

Rasional

Pengkajian dengan wawancara – membutuhkan keterampilan komunikasi yang efektif secara budaya dan linguistik, wawancara, observasi perilaku, pencatatan, dan pengkajian pasien yang komprehensif dan system yang relevan memampukan perawat kesehatan jiwa untuk dapat bersuara dalam penilaian keadaan klinis dan merencanakan intervensi untuk pasien.

Kondisi Keperawatan

Kesadaran diri

Observasi akurat

Komunikasi terapeutik

Dimensi asuhan yang responsive

Perilaku Keperawatan

Membuat kontrak keperawatan

Mengumpulkan informasi dari pasien dan keluarga

Validasi data kepada pasien

Mengorganisasi data

Elemen Kunci

Identifikasi alasan pasien mencari pertolongan

Kaji factor risiko berhubungan dengan keamanan pasien yang meliputi potensi terjadinya:

* Bunuh diri atau membahayakan diri
* Perilaku kekerasan
* Gejala putus zat
* Reaksi alergi atau reaksi efek samping obat
* Kejang
* Jatuh atau kecelaksaan
* Kabur dari rumah sakit
* Instabilitas fisiologis

Pengkajian yang menyeluruh kondisi biopsikososial terhadap kebutuhan pasien berhubungan dengan penanganan yang diberikan meliputi:

* Penilaian kondisi sehat sakit pasien dan keluarganya
* Perawatan jiwa sebelumnya pada diri pasien maupun keluarganya
* Pengobatan saat ini
* Respon koping fisiologis
* Status respons koping mental
* Sumber-sumber koping, meliputi motivasi terhadap perawatan dan hubungan yang
mendukung
* Mekanisme koping yang adaptif maupun yang maladaptive
* Masalah-masalah psikososial dan lingkungan
* Penilaian fungsi global
* Pengetahuan, kekuatan, dan defisit

STANDAR II: DIAGNOSIS

Perawat kesehatan jiwa menganalisa data hasil pengkajian untuk menentukan diagnosis.

Rasional

Dasar pemberian asuhan keperawatan jiwa adalah mengakui dan identifikasi pola respons penyakit jiwa dan masalah mental baik actual maupun potensial

Kondisi Keperawatan

Pembuatan keputusan yang logis

Pengetahuan tentang parameter normal

Berpikir induktif atau deduktif

Peka terhadap budaya

Perilaku Keperawatan

Identifikasi pola-pola dalam data

Membandingkan data dengan kondisi normal

Menganalisa dan sintesa data

Identifikasi masalah dan kekuatan

Validasi masalah dengan pasien

Memformulasikan diagnosis keperawatan

Membuat prioritas masalah

Elemen Kunci

Diagnosis harus mencerminkan respon koping adaptif dan maladaptive didasarkan pada kerangka kerja keperawatan semisal NANDA

Diagnosis harus berkaitan dengan masalah-masalah kesehatan atau keadaan penyakit seperti yang tertulis dalam DSM atau ICD (Indonesia: PPDGJ)

Diagnosis seharusnya berfokus pada fenomena dari perawat kesehatan jiwa

STANDAR III: IDENTIFIKASI HASIL

Perawat kesehatan jiwa mengidentifikasi hasil yang diharapkan secara individual terhadap pasien

Rasional

Dalam konteks memberikan asuhan keperawatan, tujuan akhirnya adalah mempengaruhi outcome kesehatan dan meningkatkan status kesehatannya.

Kondisi Keperawatan

Keterampilan berpikir kritis

Bekerja sama dengan pasien dan keluarga

Perilaku Keperawatan

Merumuskan hipotesis

Menspesifikasi hasil yang diharapkan

Memvalidasi tujuan dengan pasien

Elemen Kunci

Hasil (outcome) seharusnya diidentifikasi bersama-sama dengan pasien

Hasil seharusnya diidentifikasi sejelas dan seobyektif mungkin

Hasil yang dituliskan dengan jelas membantu para perawat untuk menentukan efektifitas dan efisiensi intervensi mereka.

Sebelum merumuskan hasil yang diharapkan perawat harus menyadari bahwa pasien mencari bantuan seringkali mempunyai tujuan mereka sendiri

Kualitas Kriteria Hasil

· Spesifik dari pada (general) umum

· Measurable (dapat diukur/obyektif) dari pada subyektif

· Attainable (dapat dicapai) dari pada unrealistic

· Current (sekarang) dari pada outdate

· Addequate jumlahnya dari pada terlalu banyak atau terlalu sedikit

· Muttual dari pada satu sisi

STANDAR IV: PERENCANAAN

Perawat kesehatan jiwa mengembangkan rencana asuhan dalam bentuk tindakan tertulis untuk mencapai hasil yang diharapkan

Rasional

Rencana asuhan digunakan untuk memandu intervensi terapeutik secara sistematis, dengan proses dokumen, dan mencapai hasil yang diharapkan oleh pasien.

Kondisi Keperawatan

Aplikasi teori

Identifikasi aktivitas keperawatan

Validasi rencana dengan pasien

Elemen Kunci

Rencana asuhan keperawatan harus bersifat individual (khas) untuk pasien

Intervensi yang direncanakan seharusnya didasarkan pada pengetahuan terbaru dalam area praktek keperawatan kesehatan jiwa

Perencanaan dilakukan dalam kolaborasi dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

Dokumentasi rencana asuhan adalah aktivitas keperawatan yang penting.

STANDAR V: IMPLEMENTASI

Perawat kesehatan jiwa menerapkan intervensi yang teridentifikasi dalam rencana asuhan

Rasional

Dalam mengimplementasikan rencana asuhan, perawat kesehatan jiwa menggunakan rentang intervensi yang lebar yang dirancang untuk mencegah sakit mental dan fisik, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik dan mental. Perawat kesehatan jiwa menyeleksi intervensi sesuai dengan level praktek mereka. Pada level dasar, perawat mungkin memilih konseling, terapi lingkungan, meningkatkan kemampuan perawatan diri, skrining intake dan evaluasi, intervensi psikobiologikal, pendidikan kesehatan, manajemen kasus, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, intervensi krisis, asuhan berbasis komunitas, perawatan kesehatan jiwa di rumah, telehealth, dan pendekatan-pendekatan yang lain untuk memenuhi kebutuhan pasien. Sebagai tambahan pilihan intervensi untuk perawat kesehatan jiwa tingkat dasar, pada tingkat lanjut perawat jiwa (APRN PMH) dapat memberikan konsultasi, melaksanakan psikoterapi, dan memberikan obat farmakologi di mana diizinkan oleh undang-undang.

Kondisi Keperawatan

Pengalaman klinis sebelumnya

Pengetahuan tentang penelitian

Dimensi responsive dan tindakan dari asuhan

Perilaku Keperawatan

Mempertimbangkan sumber yang tersedia

Mengimplementasikan aktivitas keperawatan

Menghasilkan alternatif-alternatif

Berkoordinasi dengan anggota tim lainnya

Elemen Kunci

Intervensi keerawatan seharusnya merefleksikan pendekatan holistic biopsikososial dalam merawat pasien

Intervensi keperawatan diimplementasikan dengan cara yang aman, efisien, dan penuh kasih saying (caring)

Tingkat fungsi perawat dan intervensi yang diimplementasikan tergantung pada undang-undang praktek perawat, kualifikasi perawat (meliputi pendidikan, pengalaman dan sertifikasi), tempat pembnerian asuhan, dan inisiatif perawat.

STANDAR VA: KONSELING

Perawat kesehatan jiwa menggunakan intervensi konseling untuk membantu pasien meningkatkan atau memulihkan kembali kemampuan koping sebelumnya, mengembangkan kesehatan jiwa, dan mencegah penyakit jiwa dan kecacatan.

STANDAR VB: TERAPI LINGKUNGAN

Perawat kesehatan jiwa memberikan, membentuk, dan mempertahankan lingkungan yang terapeutik bekerja sama dengan pasien dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.

STANDAR VC: AKTIVITAS PERAWATAN DIRI

Perawat kesehatan jiwa menyusun intervensi sekitar aktivitas keseharian pasien untuk mengembangkan kemampuan perawatan diri dan kesehatan fisik dan mental.

STANDAR VD: INTERVENSI PSIKOBIOLOGIKAL

Perawat kesehatan jiwa menggunakan pengetahuan tentang intervensi psikobiologikal dan mengaplikasikan keterampilan klinis untuk mengembalikan status kesehatan pasien dan mencegah terjadinya kecacatan di masa depan.

STANDAR VE: PENDIDIKAN KESEHATAN

Perawat kesehatan jiwa melalui pendidikan kesehatan membantu pasien mencapai pola hidup yang memuaskan, produktif dan sehat.

STANDAR VF: MANAJEMEN KASUS

Perawat kesehatan jiwa memberikan manajemen kasus untuk mengkoordinir pelayanan kesehatan yang komprehensif dan menjamin perawatan berkesinambungan

STANDAR VG: PROMOSI KESEHATAN DAN MEMPERTAHANKAN KESEHATAN

Perawat kesehatan jiwa menggunakan strategi dan intervensi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit jiwa

INTERVENSI PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA LANJUT

Intervensi berikut ini(VH – VJ) dapat dilaksanakan hanya oleh Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa

STANDAR VH: PSIKOTERAPI

Perawat Spesialis Keperawatan Jiwa (SKJ) menggunakan psikoterapi individu, kelompok, dan keluarga, dan penanganan terapeutik lainnya untuk membantu pasien mencegah penyakit jiwa dan disabilitas dan dalam meningkatkan status kesehatan mental dan kemampuan berfungsi.

STANDAR VI: MERESEPKAN OBAT FARMAKOLOGI

Perawat SKJ menggunakan otoritasnya untuk membuat resep, prosedur dan penanganan sesuai dengan peraturan perundangan (di Indonesia belum bias).

STANDAR VJ: KONSULTASI

Perawat SKJ memberikan konsultasi untuk meningkatkan kemampuan perawat lain dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan berdampak perubahan pada system.

EVALUASI

STANDAR VI: EVALUASI

Perawat kesehatan jiwa mengevaluasi proses pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan.

Rasional

Asuhan keperawatan adalah proses yang dinamis meliputi perubahan pada status kesehatan pasien sepanjang waktu, memberikan tambahan data, diagnosa berbeda, dan modifikasi dalam rencana asuhan. Karenanya evaluasi adalah proses berkesinambungan dalam menilai efek keperawatan dan regiment asuhan terhadap status kesehatan pasien dan hasil yang diharapkan.

Kondisi Keperawatan

Supervisi

Analisa diri

Peer review

Partisipasi pasien dan keluarga

Perilaku Keperawatan

Membandingkan respons pasien dan criteria hasil yang diharapkan

Review proses keperawatan

Memodifikasi proses keperawatan sesuai kebutuhan

Berpartisipasi dalam aktivitas peningkatan mutu

Elemen Kunci

Evaluasi adalah proses terus menerus (ongoing process)

Partisipasi pasien dan keluarga adalah penting

Pencapaian tujuan seharusnya didokumentasikan dan revisi rencana asuhan seharusnya diimplementasikan dengan sesuai

November 17, 2009

0 Tips Jitu Meningkatkan Rangking Blog

Sudah banyak sebenarnya posting tentang alexa rank. Ada yang menerangkan tentang apa itu alexa rank, untuk apa alexa rank, pengaruhnya terhadap iklan, cara menaikan alexa rank, dan sebagainya. Bermacam-macam cara dan trik yang sudah dituliskan, yang bisa jadi malah membingungkan bagi pemula. Kadang-kadang ada beberapa cara yang dianjurkan seseorang sepertinya bertentangan dengan yang lainnya.

Tidak ada masalah sebenarnya apapun trik yang dilakukan. Mereka yang memberikan trik pada dasarnya atas dasar pengalaman yang telah didapatkan. Jadi, tidak soal apakah mau mengikuti cara si A, B, atau C. Atau bisa jadi menggabungkan berbagai macam cara, siapa tahu hasilnya lebih paten. Atau punya trik sendiri yang mungkin lebih bagus dari yang sudah ada. Nah, yang terakhir ini boleh bagi-bagi ke sini.

Pengalaman di blog ini sendiri kurang lebih seperti biasa, sebagai pemula, telah mencoba beberapa macam trik yang disarankan. Hasilnya ? macam-macam. Pernah suatu ketika mencoba satu trik dan yang terjadi malah terjun bebas ke angka 6 jutaan, padahal sebelumnya di angka 3 jutaan. Mencoba trik yang lain, hasilnya tidak jauh berbeda. Akhirnya, biarlah apa adanya, toh bukan blog khusus bisnis juga.

Tetapi sambil iseng dicoba juga beberapa cara. Siapa tahu, kalau iseng biasanya suka berhasil. Cara yang dilakukan sederhana saja, pertama menambahkan widget alexa. Kedua, menambahkan "Sparky" - The Alexa Toolbar for Firefox pada browser mozilla firefox. Ketiga menjadikan blog sebagai Main Home Page pada browser atau bisa juga dengan mem-bookmark blog. Keempat, menambahkan fasilitas ping otomatis ketika posting. Kelima, posting rutin secara berkala. Dan keenam, membuat link antar posting yang satu dengan yang lainnya.

Begitu kita membuat blog, meski tidak untuk tujuan mencari uang (moneyblog) tetap saja kita tertarik untuk memperhatikan parameter yang sering digunakan dan dikaitkan dengan urusan blogging, seperti ranking Alexa, Google pagerank, trafik dan sebagainya. Barangkali sebagian Anda tidak setuju, silakan saja :D Namun bila Anda tertarik, langkah-langkah standar dan mudah berikut ini sudah banyak terbukti membantu meningkatkan Alexa rank:

1. Pasang Alexa Widget
Dengan memasang widget Alexa berarti Anda telah memasukkan blog Anda dalam database Alexa sehingga setiap pengunjung blog Anda akan tercatat melalui javascript widget tersebut. Ini merupakan cara paling penting namun mudah dilakukan, cukup copy paste script yang bisa kita download dari situs Alexa. Anda bisa klik link di bawah ini untuk mendapatkan script tersebut.

2. Pasang Alexa Toolbar
Fungsi dari Alexa toolbar ini adalah untuk menghimpun data dari pengguna toolbar tersebut tentang halaman apa saja yang diakses. Jadi bila Anda memasang toolbar ini dan menjadikan blog/website Anda sebagai homepage dari browser yang Anda pakai, tentunya akan sangat membantu dalam meningkatkan ranking Alexa.

Prinsip kerjanya bukan hanya blog atau website Anda saja, melainkan setiap website yang dikunjungi oleh browser yang terinstall toolbar ini. Tapi, bukankah blog/website Anda sendiri yang sering Anda kunjungi :) .

Toolbar Alexa ini dibedakan untuk browser Internet Explorer dan Mozilla Firefox. Silakan klik link di bawah ini sesuai browser yang Anda gunakan.

FireFox:

Internet Explorer:

3. Tingkatkan Trafik Pengunjung
Pada dasarnya inilah fungsi dari Alexa rank, untuk meranking blog/website berdasarkan pengunjung atau popularitas suatu website. Semakin banyak pengunjung suatu wesite maka peringkat Alexa-nya pun semakin baik.

4. Buat Posting Tentang Alexa
Sebenarnya hal ini lebih ke arah poin no. 3, yakni meningkatkan pengunjung, karena seperti kita tahu banyak blogger yang tertarik tentang Alexa rank ini, termasuk di dalamnya tips dan cara-cara untuk menaikkan ranking Alexa. Jadi dengan posting tentang Alexa diharapkan akan mendapatkan aliran trafik ke website atau blog yang membahas Alexa.

Saya kira dengan cara-cara di atas sudah cukup untuk meningkatkan ranking Alexa blog Anda.

Blog Keperawatan di Facebook