April 15, 2010

0 OLIGOHIDRAMNION

Oligohidramnion mengacu pada defisiensi besar volume cairan amnion. Berkurangnya volume cairan amnion dapat menimbulkan hipoksia janin sebagai akibat dari kompresi taki pusat karena gerakan janin atau kontraksi rahim. Selain itu, lintasan mekonium janin ke dalam volume cairan amnion yang tereduksi menghasilakan suatu suspensi tebal dan penuh pertikel yang dapat menyebabkan ganguan pernapasan janin.

Oligohidramnion perlu digolongkan sesuai dengan etiologinya. Oligohidramnion berhubungan dengan keterbelakangan pertumbuhan dalam rahim dan pada 60 persen kasus. Bila dihungakan dengan bukti ultrasonic keterbelakangan pertumbuhan asimetrik, gangue janin sangat mungkin terjadi, kasus-kasus itu yang diakibatkan oleh ruptura membaran janin yang spontan mungkin tidak berhubungan dengan gangguan janin sebelumnya. Oligohidramnion mungkin terjadi sebagai akibat tekanan janin in utero ; sekresi hormone penekan janin (katekolamin, vasopressin) dapat menghambat resopsi cairan paru-paru lewat penelanan oleh janin. Akhirnya, terdapat kasus yang berhubungan dengan berbagai Janis cacat janin, misalnya sindroma Potter (agenesis ginjal), yang butuh pemeriksaan ultarsonik dan genetic secara rinci.
POLIHIDRAMNION
Polihidarmnion mengac pada jumlah cairan amnion yang terlalu banyak, biasanya melebihi dari 2 liter. Cairan itu biasanya dikumpulkan perlahan-lahan, meskipun hidarmnion akut kadang-kadang dapat terjadi, terutama pada kehamilan kembar. Komplikasi polihidarmnion antara lain adalah peningkatan partus prematurus (karena rahim yang terlalu regang), rasa tak enak pernafasan ibu, prolaps tali pusat pada saat ruptura membrane, dan malpresentasi janin.
Etiologi
Polihidarmnion dapat dibahas dari segi tempat sekresi cairan dan resorpsi. Anomali absorpsi gastrointestinal (misalnya, anensefali, atresia duodenum, fistula trakeoesofagus) sering berhubungan dengan polihidarmnion. Kadang-kadang anomaly system paru-paru (misalnya, cacat adenomatoid kistik pada paru-paru) dapat disebabkan oleh meningkatnya produksi cairan. Kelainan aliran air transkorionik dapat mengakibatkan kelebiahn akumulasi cairan, sebagian yang kadang-kadang terjadi pada kehamilan dengan diabetes. Selain itu, polihidarmnion terjadi pada sebagian besar kehamilan yang ditandai dengan hidrops imun atau nonimun.janin dan plasenta menjadi bengkak dalam keadaan ini, sebagian akibat dari gagal jantung kongestif janin, hipoproteinemia, atau anemia yang berat. Transudasi cairan plsenta dan juga peningkatan produksi cairan janin mungkin merupakan penyebab polihidarmnion.
Kalau polihidarmnion dicurigai, diagnosis yang pasti dapat dilakukan dengan ultrasonografi. Pemeriksaan ultrasonic yang lengkap pada janin harus dilakuakan untuk menyingkirkan hidrops atau cacat. Pengujian ibu harus emncakup penyaringan, diabetes, titer antibody rhesus, penentuan dehidrogenase glukosa-6-fosfat, elektroforesis hemoglobin, dan titer virus (TORCH) bila cocok.
Meskipun dapat dilakukan penggalian pada cairan amnion yang terlalu banyak lewat amniosentesis, terjadinya reakumulasi sampai 1 liter per hari membatasi pendekatan ini. Abat tokolitik agonis-beta untuk mengurangi aktivitas rahim mungkin memberikan manfaat, dan pasien harus dianjurkan untuk beristirahat sebanyak mungkin. Dalam bentuk akut, induksippersalinan mungkin perlu dilakukan untuk mengurani gangguan berat badan ibu.

No comments:

Post a Comment

Blog Keperawatan di Facebook